Pokoknya ribet dan belum tentu jebol! Begitulah respons yang lazim
dialami saat mengajukan kredit usaha ke bank. Bagi mereka yang sedang
penjajakan usaha maupun yang berstatus pengusaha kecil dan menengah,
menembus benteng persyaratan pengajuan kredit ke perbankan rada njlimet.
Sudah begitu belum tentu dikabulkan. Mau yang berjenis pinjaman tanpa
agunan maupun bersama agunan.
Bank sudah menyodorkan lebih dulu deretan persyaratan yang mesti
dipenuhi. Mulai dari identitas diri, keterangan usaha yang dijalani,
prospek ke depannya, dan tetek bengek syarat lainnya. Kadang inilah yang
jadi tembok bagi pebisnis modal cekak mencari pinjaman uang cepat tanpa
syarat dan jaminan.
Beda kasusnya kalau mengajukan kredit konsumtif seperti kredit
kepemilikan kendaraan, rumah, atau barang elektronik. Tak butuh waktu
lama, bank akan mengamini pengajuan itu. Tentunya dengan menyertakan
bunga. Maklumlah, kredit produktif dan kredit konsumsi memiliki
mekanisme pencairan kredit yang berbeda. (Ref 1)
Tapi bukan pebisnis tangguh dong kalau sudah menyerah duluan. Perlu
dicatat, bank tetap berkepentingan dengan para pebisnis. Apalagi kalau
bukan sebagai target kreditur agar bisa menyalurkan kredit demi mereguk
laba. Mungkin solusinya dengan memanfaatkan kredit tanpa agunan (KTA)
atau kartu kredit.
Predikat entrepeneur alias pebisnis bisa jadi ‘senjata jualan’ diri ke
bank. Ada lho bank yang menargetkan kalangan ini untuk menjajakan bisnis
kartu kreditnya. Tinggal bagaimana mengkaji tawaran itu mengingat kartu
kredit sifatnya untuk pinjaman konsumtif ketimbang utang produktif.
Tentu saja pertanyaan dasarnya adalah seberapa ekonomisnya memanfaatkan
kartu kredit sebagai modal usaha?
Pastinya akan memunculkan dua kutub pro dan kontra. Bagi yang kontra,
memanfaatkan kartu kredit sebagai modal usaha dianggap membahayakan.
Utamanya pada pengenaan bunga. Kartu kredit adalah utang konsumtif yang
suku bunganya lumayan tinggi. Kutub kontra lebih menyarankan mencari
pinjaman dana tunai tanpa jaminan dari pihak ketiga. Misalnya dari
kerabat sendiri atau angle investor. Pilihan ini lebih aman karena
menyodorkan mekanisme bagi hasil ketimbang membayar bunga.
Minusnya, menemukan investor yang sanggup memberikan pinjaman tanpa
jaminan tidaklah mudah. Butuh waktu lumayan panjang sampai mendapatkan
investor yang tak hanya berdoku tebal tapi juga punya chemistry yang
sama. Padahal, kebutuhan modal sifatnya mendesak direalisasikan.
Beda dengan kutub yang pro menjadikan kartu kredit sebagai sumber utang
produktif. Sah-sah saja menggesekkan uang plastik ini untuk
pengembangan usaha. Alasannya simpel, yakni kartu kredit merupakan
sumber modal usaha yang fleksibel dan mudah mendapatkan hanya bermodal
KTP.
Meski boleh tapi tetap mengedepankan kalkulasi yang matang. Pertama
adalah mempelajari dengan seksama syarat dan skemanya. Kuncinya ada pada
persyaratan umum kartu kredit, suku bunga, annual fee, dan tanggal
utang jatuh tempo. Dari situ akan bisa dilihat sejauh mana arus kas dari
usaha yang dilakoni bisa melunasi tagihan tanpa sisa sebelum jatuh
tempo. Ingat, bunga baru dikenakan jika tagihan tak mampu dilunasi saat
jatuh tempo yang berdurasi 20 hari sejak cetak tagihan.
Kelancaran arus kas di sini menjadi penting. Atas dasar itulah, banyak
pihak yang menyarankan modal usaha dari kartu kredit ini sebaiknya untuk
membiayai bisnis yang perputaran uang kasnya relatif cepat. Misalnya
saja bisnis kuliner, pakaian jadi, dan sejenisnya. Artinya, tak semua
jenis usaha bisa dimodali lewat kartu kredit.
Lantaran begitu ketatnya prinsip kehati-hatian dalam penggunaan kartu
kredit sebagai modal usaha, maka sebaiknya jangan jadikan kartu kredit
sebagai sumber utama permodalan. Alangkah bijaknya jika pinjaman tunai
tanpa jaminan ini digunakan untuk menambal saat kekurangan modal usaha.
Jadi sifatnya sewaktu-waktu saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar