Jumat, 09 Mei 2014

Pinjaman dana tunai

Pokoknya ribet dan belum tentu jebol! Begitulah respons yang lazim dialami saat mengajukan kredit usaha ke bank. Bagi mereka yang sedang penjajakan usaha maupun yang berstatus pengusaha kecil dan menengah, menembus benteng persyaratan pengajuan kredit ke perbankan rada njlimet. Sudah begitu belum tentu dikabulkan. Mau yang berjenis pinjaman tanpa agunan maupun bersama agunan.
 
Bank sudah menyodorkan lebih dulu deretan persyaratan yang mesti dipenuhi. Mulai dari identitas diri, keterangan usaha yang dijalani, prospek ke depannya, dan tetek bengek syarat lainnya. Kadang inilah yang jadi tembok bagi pebisnis modal cekak mencari pinjaman uang cepat tanpa syarat dan jaminan.
 
Beda kasusnya kalau mengajukan kredit konsumtif seperti kredit kepemilikan kendaraan, rumah, atau barang elektronik. Tak butuh waktu lama, bank akan mengamini pengajuan itu. Tentunya dengan menyertakan bunga. Maklumlah, kredit produktif dan kredit konsumsi memiliki mekanisme pencairan kredit yang berbeda. (Ref 1)
 
Tapi bukan pebisnis tangguh dong kalau sudah menyerah duluan. Perlu dicatat, bank tetap berkepentingan dengan para pebisnis. Apalagi kalau bukan sebagai target kreditur agar bisa menyalurkan kredit demi mereguk laba. Mungkin solusinya dengan memanfaatkan kredit tanpa agunan (KTA) atau kartu kredit. 
 
Predikat entrepeneur alias pebisnis bisa jadi ‘senjata jualan’ diri ke bank. Ada lho bank yang menargetkan kalangan ini untuk menjajakan bisnis kartu kreditnya. Tinggal bagaimana mengkaji tawaran itu mengingat kartu kredit sifatnya untuk pinjaman konsumtif ketimbang utang produktif. Tentu saja pertanyaan dasarnya adalah seberapa ekonomisnya memanfaatkan kartu kredit sebagai modal usaha?
 
Pastinya akan memunculkan dua kutub pro dan kontra. Bagi yang kontra, memanfaatkan kartu kredit sebagai modal usaha dianggap membahayakan. Utamanya pada pengenaan bunga. Kartu kredit adalah utang konsumtif yang suku bunganya lumayan tinggi. Kutub kontra lebih menyarankan mencari pinjaman dana tunai tanpa jaminan dari pihak ketiga. Misalnya dari kerabat sendiri atau angle investor. Pilihan ini lebih aman karena menyodorkan mekanisme bagi hasil ketimbang membayar bunga.
 
Minusnya, menemukan investor yang sanggup memberikan pinjaman tanpa jaminan tidaklah mudah. Butuh waktu lumayan panjang sampai mendapatkan investor yang tak hanya berdoku tebal tapi juga punya chemistry yang sama. Padahal, kebutuhan modal sifatnya mendesak direalisasikan.
 
Beda dengan kutub yang pro menjadikan kartu kredit sebagai sumber utang produktif. Sah-sah saja menggesekkan uang plastik ini untuk pengembangan usaha. Alasannya simpel, yakni kartu kredit merupakan sumber modal usaha yang fleksibel dan mudah mendapatkan hanya bermodal KTP.
 
Meski boleh tapi tetap mengedepankan kalkulasi yang matang. Pertama adalah mempelajari dengan seksama syarat dan skemanya. Kuncinya ada pada persyaratan umum kartu kredit, suku bunga, annual fee, dan tanggal utang jatuh tempo. Dari situ akan bisa dilihat sejauh mana arus kas dari usaha yang dilakoni bisa melunasi tagihan tanpa sisa sebelum jatuh tempo. Ingat, bunga baru dikenakan jika tagihan tak mampu dilunasi saat jatuh tempo yang berdurasi 20 hari sejak cetak tagihan.
 
Kelancaran arus kas di sini menjadi penting. Atas dasar itulah, banyak pihak yang menyarankan modal usaha dari kartu kredit ini sebaiknya untuk membiayai bisnis yang perputaran uang kasnya relatif cepat. Misalnya saja bisnis kuliner, pakaian jadi, dan sejenisnya. Artinya, tak semua jenis usaha bisa dimodali lewat kartu kredit.
 
Lantaran begitu ketatnya prinsip kehati-hatian dalam penggunaan kartu kredit sebagai modal usaha, maka sebaiknya jangan jadikan kartu kredit sebagai sumber utama permodalan. Alangkah bijaknya jika pinjaman tunai tanpa jaminan ini digunakan untuk menambal saat kekurangan modal usaha. Jadi sifatnya sewaktu-waktu saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar